TENTANG KEDENGKIAN ORANG-ORANG MUNAFIK

GEMA JUMAT, 21 FEBRUARI 2020

 Prof. Dr. Tgk. H. Azman Ismail,MA (Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman)

“Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka?Dan kalau Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu. (QS Muhammad 29 – 30)

Dalam ayat ini, Allah menjelaskan bahwa, orang-orang munafik memiliki penyakit dalam hatinya yaitu berupa kedengkian terhadap Nabi Muhammad SAW. Kedengkian inilah yang menyebabkan mereka berpaling dari kebenaran. Tetapi mereka menyembunyikan hal tersebut apabila berpapasan dengan Nabi Muhammad SAW atau dengan orang-orang yang benar-benar beriman. Allah menyatakan bahwa penyakit (kedengkian hati) mereka itu, diketahui dan nampak di hadapan Allah SWT. Tak ada yang dapat disembunyikan, meskipun mereka mencoba menyembunyikan sedalam-dalamnya.

Kemudian Allah SWT menegaskan bahwa tanda-tanda kedengkian tersebut dapat dilihat dari penampilan fisik dan aura mereka. Dalam hal ini Allah SWT menyatakan kepada Rasul-Nya, apakah orang-orang dengki itu perlu diperlihatkan kepadanya dengan tanda-tanda yang dimilikinya?

Allah SWT banyak membicarakan tentang orang-orang munafik dalam ayat-ayat al-Qur’an, mungkin berbanding dengan penyebutan orang-orang kafir. Penyebutan orang-orang munafik lebih spesifik tentang prilaku mereka, karena mereka menjadi duri dalam dakwah, karena mereka tidak menunjukkan penentangan secara terang-terangan, namun dalam diam serta menusuk dari belakang.

Inilah bagaimana beratnya perjuangan yang apabila terdapat pengkhianat dari dalam. Rasulullah sendiri merasa berat untuk mengidentifikasi mereka dan menangani mereka, sehingga Allah ‘menawarkan’ kepada beliau, agar disingkapkan yang manakah orang-orang munafik di kalangan kaum muslimin.

Demikian juga yang terjadi dalam perkembangan dakwah di era modern. Orang-orang munafik menjelma dalam arus pemikiran modern, liberal dan hal-hal yang bertentangan dengan khittah dakwah. Mereka meracuni pemikiran dengan dalih kemajuan zaman dan sebagainya, sehingga membingungkan ummat untuk melangkah maju.

Sejarah selalu membuktikan, kerugian perjuangan yang dilakukan oleh pengkhianatan akan lebih parah dan benar-benar terasa. Karena pengkhianatan itu berasal dari kalangan sendiri, tentu lebih banyak hal-hal yang menjadi pertimbangan. Oleh karena bagi para kader dakwah dan intelektual muslim, agar terus mengembangkan sayap dakwah ke seluruh penjuru dunia, namun jangan meremehkan orang-orang intelektual yang munafik, yang akan merongrong perjuangan Islam dengan berbagai cara, apakah itu media, perang pemikiran, budaya dan sebagainya. Wallahu musta’an.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *