Pemimpin Berpihak Pada Kebenaran

GEMA JUMAT, 7 FEBRUARI 2020

Salah satu dasar kekuatan Islam terdapat pada imamah, kepemimpinan. Hidup ber-jam’iyyah, berserikat bagi umat Islam merupakan conditio sain cuo non. Rasul menyatakan, “Islam tidak akan tegak kecuali berjama’ah, jama’ah tidak ada apa-apanya kecuali ada kepemimpinan, dan apa gunanya pemimpin kalau tidak ditaati (al hadits). Dengan hidup berimamah seperti itu, umat Islam tidak pernah kehilangan pimpinan, bahkan setiap individu wajib siap siaga apabila ia dipinta untuk jadi pemimpin dengan segala konsekuensinya.

Seorang pemimpin memang telah mendapatkan amanah untuk mengatur segala urusan masyarakat atau rakyat yang dipimpinnya. Oleh karena itu, pada diri seorang pemimpin melekat kuasa atau wewenang untuk mengambil kebijakan dan keputusan. Namun demikian, semua harus dijalankan atas dasar iman, akal sehat dan kemaslahatan yang dipimpin.

Rasulullah jauh-jauh hari memberikan maklumat perihal kepemimpinan dengan mengutamakan sikap adil, yakni memberikan amanah kepada orang-orang yang kompeten. Jika tidak, maka kehancuran demi kehancuran pasti akan segera menghadang.

“Bila amanah disia-siakan, maka tunggulah kehancurannya. Dikatakan, bagaimana bentuk penyia-nyiaannya?. Beliau bersabda, “Bila persoalan diserahkan kepada orang yang tidak berkompeten, maka tunggulah kehancurannya”. (H.R. Bukhari).

Tetapi imam atau pemimpin yang adil bukan lagi berbicara jenis kelamin atau terbatas pada aparat pemerintah belaka. Imam atau pemimpin memiliki pengertian yang luas. Kata imam atau pemimpin juga mencakup siapa yang mengemban amanah dalam bentuk apa pun yang dituntut untuk bersikap adil. Berikut petikan wawancara Wartawati Gema Baiturrahman, Liza Yana, dengan Guru Besar dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unsyiah, Prof. Dr. M. Ali Sarong, M.Si..


Apa pentingnya sebuah kepemimpinan?

Pemimpin, orang yang mengemban amanah dan bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya. Kegiatan yang dilakukan, selalu mempengaruhi kelompok yang dipimpin untuk mencapai tujuan yang disepakati bersama. Setiap pemimpin yang baik selalu memiliki sifat yang siap mengayomi dan mensejahterakan rakyat  yang dipimpinnya. Hal ini menunjukkan  sebagai aplikasi suatu sifat tanggung jawab dari pemimpin tersebut.

       Setiap pemimpin memiliki tanggung jawab tidak hanya terhadap yang dipimpinnya, akan tetapi juga bertanggung jawab kepada Sang Khalik sebagai penciptanya. Setiap pemimpin akan ditanya siapa yang dipimpin, bagaimana cara memimpin, dan bagaimana sikapnya terhadap yang dipimpin yang memiliki berbagai karakter dan sikapnya  di dalam masyarakat.

       Kehidupan di dalam masyarakat dewasa ini, memiliki persoalan dan permasalahan yang komplek. Kondisi di masyarakat sangat dinamis, yang selalu mengarah kepada  penghidupan yang positif dan yang negatif. Ini tentu memerlukan pemimpin yang dapat memilah2 antara permasalahan yang baik dengan permasalahan yang jelek. Adanya pemimpin yang baik menghasilkan karya yang baik, tetapi ada pemimpin yang jelek akan menghasilkan karya yang jelek di dalam masyarakat.

Bagaimana seorang pemimpin dapat mengefektifkan kepemimpinannya?

Setiap masyarakat selalu mendambakan pemimpin yang baik, untuk memimpin mereka. Pemimpin yang didambakan memiliki sifat tidak pelit yang selalu memberi contoh disiplin kepada masyarakat  yang dipimpin, kosisten dengan peraturan yang berlaku dan pandai membaca situasi, menguasai pekerjaan dengan sistem komunikasi dan interaksi yang baik dan bersikap adil dan selalu memberikan bimbingan  dan membuang kebiasaan buruk yang ada pada diri mereka.

         Adanya sikap pemimpin yang didambakan masyarakat seperti di atas, diharapkan muncul pemimpin yang berpihak pada kebenaran,  yang dapat menyelesaikan permasalahan yang ada di masyarakat sesuai harapan bersama. Pada saat ini masyarakat sepertinya telah apatis melihat sekap pemimpin yang masih jauh dari harapan, terutama pemimpin bangsa yang seolah2 membiarkan sesuatu tampilan di depan matanya yang seharusnya tidak perlu terjadi seperti cara berpakaian di media sosial yang selalu ditonton calon generasi pembangun  bangsa dimasa mendatang.

Bagaimana cara seorang pemimpin harusnya dalam menyelesaikan masalah?

Menyelesaikan permasalahan yang terdapat di masyarakat, dapat dilakukan oleh seorang pemimpin secara arif dan bijaksana. Pemimpin dapat menyelesaikan permasalahan secara musyawarah dan mufakat terhadap permasalahan dalam masyarakat, tetap mengedepankan peraturan yang ada terutama peraturan agama dan peraturan bernegara, yang mendambakan masyarakat yang kokoh, dinamis, dan berkeadilan.

Bagaimana cara pemimpin memastikan keberpihakan pada kebenaran dan keadilan?

Dalam masyarakat yang majemuk baik di Aceh maupun di luar Aceh, akan muncul berbagai permasalahan yang perlu dipecahkan. Masalah yang muncul dalam masyarakat, memerlukan pemimpin yang baik, jujur, amanah, rendah hati, tenang dalam menhadapi tekanan, dan berani dalam mengambil keputusan.

        Menurut Syaikhul Islam bahwa pemimpin yang baik memiliki sifat amanah dan kemampuan atau kekuatan dalam menjalankan amanah yang diembannya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Qashas ayat 26 bahwa manusia yang terbaik ditunjukkan dengan sikap dalam bekerja kuat dan amanah. Apabila ada masalah yang harus diselesaikan, seorang pemimpin yang amanah selalu berpihak pada kebenaran. Pemimpin tidak mau mengikuti arus yang mengabaikan kebenaran dan tindakan yang diambil berlawanan dari sebenarnya dari apa yang harus dilakukannya.

      Setiap persoalan yang terjadi di dalam masyarakat, pemimpin selalu melihatnya sebagai permasalahan yang perlu dipecahkan dengan tetap berdiri diatas semua pihak sebagai bawahan yang dipimpinnya. Seorang pemimpin harus menjadi pengayom dalam memecahkan masalah dengan sikap “Uleue beu matee ranteng beuk patah”. Jika pemimpin seperti ini terdapat di dalam masyarakat, maka kondisi masyarakat hidup santun yang saling menghargai dan selalu dalam uchuah Islamiah dan uchuan Wathaniah yang aman dan tentram, sebagai masyarakat yang Pancasilais dan masyarakat agamais yang rukun damai dalam lindungan Allah Swt.

Untuk membangun manusia Indonesia yang sedang krisis moral pada saat ini  menjadi masyarakat yang agamais, diperlukan pemimpin yang pro rakyat, memiliki sifat jujur, dan memiliki nilai  religi yang berpegang teguh pada ajaran agama yang dipeluknya. Sangatlah naif dapat diperoleh masyarakat yang baldatun thaibatun warabbul ghafur, apabila didalamnya terdapat pemimpin bermata dua, penjilat, tidak konsisten antara perkataan dengan perbuatan yang dilakukannya, menutup mata dengan tidak memperdulikan kegiatan yang mengarah kepada degradasi moral, seperti cara berpakaian anak bangsa di media sosial terutama di layar televisi yang ada di nusantara saat  ini.

     Mudah2an muncul pemimpin yang membangun kesopanan dan moral anak bangsa menjadi masyarakat yang religius, cinta pada kebenaran yang berakhlak mulya, dan takut pada murkanya Allah Swt. Semoga semua ini selalu dalam petunjuk, bimbingan, dan ridha Allah Swt. Amin yarabbal alamin.