27 Maret 2020

Belajar dari Sejarah wabah masa lalu di Aceh

GEMA JUMAT, 27 MARET 2020

Setiap hari wabah virus corona terus menyebar luas dan berubah menjadi covid-19. Wabah ini yang awalnya ditemukan di kota Wuhan, China. Kini sudah merambah lebih dari 176 negara di dunia dan wabah ini pun sudah menjadi pandemi global. Berbagai upaya dilakukan semua pihak untuk menghindari penyebaran virus mematikan ini, salah satu upaya dengan mengkonsumsi ramuan tradisional. Lalu bagaimana Aceh dengan sejarah masa lalu dalam menangani wabah yang pernah ada di Aceh.
Untuk lebih lanjut, berikut wawancara singkat Nelly, Wartawati Tabloid Gema Baiturrahman, dengan Drs. Nurdin AR, M.Hum, Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry dan Mantan Kepala Museum Aceh.

Apakah zaman dulu di Aceh ada wabah penyakit ?
Di aceh, ada wabah kolera, dalam istilah orang Aceh yakni Ta’eun ija Brok terjadi antara 1912-1916. Waktu perang Aceh dengan Belanda selama 30 tahun. Ada dibawa wabah kolera oleh serdadu Belanda sehingga membuat penduduk Aceh banyak menjadi tertular.
Ta’eun ija brok menjadi wabah yang mematikan, dimana semua kain perca kain sarung bisa menularkan ke badan. Meski diselimuti dengan kain karena dulu masih sulit, belum ada vaksin. Penderita mengalami seperti terbakar di seluruh badannya, lalu ditutup dengan daun pisang.
Secara periodik juga terjadi wabah cacar, kalau orang Aceh bilang Peulaweu. dimana kondisi muka wajah orang zaman dulu berlubang-lubang. Cacar seluruh badan. Ada juga yang meninggal karena wabah cacar, mulai dari satu orang hingga satu rumah terkena cacar.

Bagaimana Upaya penanganannya saat dulu?
Dulu, Gubernur Sipil dan Militer Aceh, Jenderal H.N.A Swart yang mendirikan Museum Aceh. Ia mempelajari bagaimana mencegah kolera atau eltor. Ternyata kopi bisa menjadi salah satu obat untuk mencegah kolera. Ketika ditemukan kopi, lalu dicari cara bagaimana menyeduhkan kopi. Ternyata kopi harus ditambahkan gula. Meskipun sebelumnya Kedai kopi sudah ada di Aceh, yang dibawakan oleh orang China
Selain obat berupa kopi, ada obat lain yaitu air direbus lalu dipercikkan dengan daun belimbing atau daun asam ke badan.
Antropolog berkebangsaan Belanda, Christiaan Snouck Hurgronje. Dalam buku ’‘The Achehnese‘‘, Snouck menuliskan ada jenis obat yang digunakan masyarakat Aceh untuk menyembuhkan penyakit ta’eun, wabah eltor atau dikenal kolera.
Snouck memaparkan kalau campur air tebu dengan bubuk kunyit bisa membantu kesembuhan. Penderita yang terjangkit bisa diberikan air beras dengan dicampurkan dengan gambir. Dan air jambu biji yang sudah dipanggang lalu diminum juga bisa.
Ramuan –ramuan ini dianggap sangat efektif untuk menyembuhkan penyakit epidemi bagi pasien yang terserang ta’eun. Saya pikir wabah eltor muncul saat snock berada di Aceh kala itu.
Kemudian cacar belakangan, ada ditangani dengan suntik.
Apa Penyebab terjadinya wabah tersebut?
Itu faktor kebersihan. Ada juga akibat air tidak bersih, pramusia, kudis, dulu ada kebiasaan , anak dulu selepas sunat tidur di menasah, habis ngaji tidur di meunasah.
Masalah lain, kalau kena wabah, tidak ada diisolasi seperti sekarang.
Dulu tahun 90-an kebawah, orang Aceh tempo dulu ada dikafankan, dishalatkan dan dimandikan. Kalau sekarang beda wabah. wabah virus corona, harus ada protokolnya bagaimana menangani jenazah, dibungkus hingga 5 lapis, dikubur dan dishalatkan oleh 4 orang. Yang melayatpun harus menjaga jarak dengan jenazah.
Terkait Covid-19, adakah solusi orang Aceh dalam mencegah wabah virus tersebut dari belajar dari masa lalu?
Untuk virus ini, kita ikuti sesuai intruksi pemerintah, dengan menjaga jarak dan diam di rumah. Saya sebagai dosen, tetap berdiam diri dirumah dan saya tidak ingin memberatkan anak-anak jika sakit. Istirahat dirumah lebih baik.
Zaman dulu, seingat saya setelah selesai shalat lima waktu, ada bacaan khusus doa menolak bala dalam alquran dibaca 30 kali dan baca istighfar sehabis shalat magrib, lalu dilanjutkan keliling dilorong-lorong sambil baca doa tolak bala sebelum tiba shalat Insya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *