Ibadah Qurban Memiliki Nilai Sosial yang Tinggi

GEMA JUMAT, 911 AGUSTUS 2019

Prof. Dr. H. Rusydi Ali Muhammad  SH, MH, Ketua Forsimas

Apa sebenarnya arti qurban?

Qurban berasal  dari Bahasa Arab yang berarti dekat. Qurban juga disebut al-udhhiyyah, binatang sembelihan seperti unta, sapi, kerbau atau kambing/domba yang disembelih pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyriq. Tujuannya sebagai salah satu bentuk upaya mendekatkan diri kepada Allah.

Lalu apa makna yang bisa dipetik dari ibadah qurban?

Pertama, qurban adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Sebagai manusia kita diajarkan untuk menyerahkan segalanya kepada Allah swt. Hal ini telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim a.s yang telah mengikhlaskan putra kesayangannya Ismail a.s, namun karena perintah Allah swt, Nabi Ibrahim ikhlas dan rela untuk menjadikannya sebagai qurban. Inilah wujud penyerahan diri secara totalitas kepada Sang Khaliq.

Kedua, qurban adalah sarana berbagi kepada sesama yang kurang mampu. Ibadah qurban memiliki nilai sosial yang tinggi. Dengan qurban ini mereka yang kurang mampu bisa merasakan lezatnya daging hewan qurban, yang selama ini mungkin hanya ada dalam bayangan semata.

Ketiga, qurban juga  mengajarkan kita tentang keikhlasan, yakni keikhlasan untuk mengambil sebagian harta  yang dimiliki guna dibelikan hewan qurban lalu dibagikan kepada sesama. Dengan cara ini diharapkan agar kita ummat Islam terhindar dari sifat tamak dan cinta duniawi.

Bagaimana ketentuan fikih dalam berqurban?

Secara  lahiriah ibadah qurban adalah menyembelih hewan tertentu dengan ukuran dan kadar tertentu pula. Seekor kambing atau domba sah untuk qurban satu orang, sedangkan seekor lembu atau kerbau yang cukup besar dan sehat, sah untuk qurban tujuh orang. Begitulah ketentuan fiqhiyyah yang dipahami sehari-hari.

Hukumnya wajib atau sunat bagi yang mampu?

Mengenai ibadah Qurban ini ada tiga hal yang sering membuat  banyak orang tidak begitu mementingkan untuk melakukannya, tidak begitu tergerak untuk juga ikut berqurban. Yang pertama adalah  pengetahuan masyarakat pada umumnya bahwa secara fiqhiyyah qurban itu  hukumnya sunnah, meskipun banyak juga yang tahu bahwa ia adalah  sunnah muakkadah, sunnah yang sangat dianjurkan. Tetapi toh bukan wajib. Jadi kalau tidak dikerjakan, tidaklah berdosa. Masih banyak lain yang wajib, yang harus dikerjakan lebih dulu. Akibatnya banyak yang  mengabaikan ibadah qurban dengan mengambil pembenaran  pada ketentuan fiqhiyyah ini.

Yang kedua, ada  pembenaran lain, yakni dengan alasan bahwa qurban itu adalah beban bagi orang yang mampu. Jadi bagi yang tidak mampu, tidak apa-apa. Hanya saja ukuran mampu atau tidak mampu  bisa sangat subjektif, tergantung kepentingan masing-masing. Menurut Imam Syafi’i, tolok ukur mampu atau tidak mampu dilihat dari kenyataan apakah seseorang itu memiliki kekayaan sebanyak harga binatang qurban itu dalam jumlah yang lebih dari kebutuhannya dan kebutuhan orang-orang yang ditanggungnya pada Hari ’Idul Adha dan tiga hari tasyriq. Jadi singkatnya ukuran mampu adalah memiliki simpanan lebih dari kebutuhan untuk empat hari.

Mungkin ada makna filosofi dari ibadah qurban?

Benar, sebenarnya ada latar belakang dan filosofi yang jauh lebih tinggi.  Salah satunya ialah bahwa ibadah qurban ini mengingatkan kaum muslimin terhadap satu kebenaran pokok dalam kehidupan, bahwa untuk mendapatkan keberuntungan  kita harus rela berqurban. Untuk mendapatkan keberhasilan kita harus mau bersusah payah, harus mau berjuang, harus rela berkorban. Tidak ada keberhasilan yang diperoleh cuma-cuma.

Apa usaha yang dilakukan Forsimas selama ini?

Forsimas atau Forum Silaturrahim Kemakmuran Masjid Serantau sejak tiga tahun terakhir ikut mengumpulkan qurban dari masyarakat. Dua tahun lalu Forsimas mengirimkan 10 ekor sapi qurban ke muslim Kamboja sebagai bentuk kepedulian ummat Islam Aceh, tahun lalu demikian pula. Tahun ini kita salurkan di wilayah atau desa dengan masyarakat kurang mampu di Aceh Besar.  

Apakah menurut amatan Anda, semangat berqurban masyarajat Aceh semakin meningkat atau menurun?

Ada trend peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, namun kenyataannya juga masih banyak orang-orang yang tergolong mampu yang enggan berqurban. Saya kira dengan gencarnya dakwah dan penyadaran, tahun-tahun selanjutnya jumlah qurban semakin meningkat lagi. Baskar

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!