Pembinaan Qari-Qariah Harus Mendidik

GEMA JUMAT, 27 SEPTEMBER 2019

Dr. Ir. Agussabti, M.Si –  Ketua IPQAH Provinsi Aceh dan Wakil Rektor II (Bidang Umum dan Keuangan) Universitas Syiah Kuala

MUSABAQAH Tilawatil Quran (MTQ) ke-34  tingkat Provinsi Aceh, kini sedang berlangsung di Kabupaten Pidie. Pemerintah bersama seluruh elemen masyarakat setempat sudah jauh-jauh hari menyatakan kesiapannya menyelenggarakan even dua tahunan itu. Para kafilah dari 23 kabupaten/kota di Aceh pun, kini sedang menunjukkan kebolehannya guna memberikan yang terbaik bagi kabupaten/kota yang diwakilinya. Melalui MTQ diharapkan bisa tercipta masyarakat dan generasi muda yang berjiwa Qurani menuju terbentuknya masyarakat madani, yang tidak hanya memiliki minat baca al-Quran, tetapi juga mampu mendalami dan mengamalkan isi kandungannya dalam kehidupan pribadi dan sosial kemasyarakatan. Simak wawancara singkat wartawan Tabloid Gema Baiturrahman Indra Kariadi dengan Ketua IPQAH Aceh, Dr. Ir. Agussabti, M.Si. Pasca perhelatan event MTQ kemana?

Bagaimana Anda melihat untuk pembinaan para qari-qariah di Aceh?

Sebenarnya sudah ada upaya pembinaan yang dilakukan pemerintah Aceh, tapi sifatnya masih temporari dan belum berkelanjutan. Seperti contoh,  pembinaan dilakukan menjelang MTQ. Oleh sebab itu, untuk mencapai hasil yang optimal maka perlu dilakukan pembinaan secara berkelanjutan. Seperti ada pembinaan klaster berjenjang mulai dari tingkat kemukiman, kecamatan, kabupaten sampai provinsi. Pendekatan ini dilakukan dengan mengandalkan mesjid kemukiman sebagai tempat pelatihan para qori-qoriah, di kabupaten atau kecamatan sebagai gurunya, dan sebulan sekali akan divisitasi oleh guru dari juara kabupaten dan provinsi dengan biaya sekitar 15 juta pertitik, maka pembinaan bisa dilakukan secara berkelanjutan

Dengan cara demikian maka potensi para qari-qoiah terbaik daerah dapat diidentifikasi dan dibina secara optimal, yang berpotensi selanjutnya dibina di tingkat provinsi.

Apakah pemerintah selama ini sudah membantu kesejatahteraan para qari-qariah?

Pemerintah sudah melakukan pembinaan,  tapi belum optimal dan berkelanjutan.. Oleh sebab itu, pemerintah perlu bekerjasama dengan lembaga-lembaga pembinaan al-Quran seperti Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) dan Ikatan Persaudaraan Qari-Qariah dan Hafidz-Hafidzah (IPQAH)  di masing-masing daerah.  Sementara untuk kesejahteraan qari-qariah sebagian yang dilakukan pemerintah dengan memberikan hadiah bonus dan peluang kerja menjadi PNS, tapi belum pendekatan yang menyeluruh. Karena itu ke depan perlu ada peraturan pemerintah terkait dengan penghargaan tersebut, khususnya yang juara-juara nasional maupun internasional.

Apa yang sebenarnya yang jadi kebutuhan para qari-qariah setelah MTQ?

Pembinaan harus bersifat mendidik dan berkelanjutan. Misalnya untuk pelajar dan mahasiswa di jamin beasiswanya, sedangkan untuk umum bisa dalam bentuk modal kerja yang disertai pedampingan usaha.

Sejauh mana dampak positifnya MTQ bagi masyarakat?

Dampak positif MTQ bagi masyarakat itu sangat besar, timbul semangat untuk belajar dan mendalami al-Quran secara berkelanjutan antar generasi. Sehingga al-Quran dapat menjadi pedoman dan bagian dalam kehidupan masyarakat Aceh secara berkelanjutan.

Apa tujuan untuk mengikuti MTQ?

Tujuan mulia mengikuti MTQ bukan semata-mata meraih juara dan piala, tapi lebih mulia dari itu adalah harapan kita bersama agar menjadi golongan ahlul Quran dan bagian dari skenario dalam memelihara kalam sucinya di bumi Serambi Mekkah ini.

Kira-kira bagaimana persiapan MTQ Nasional 2020 nanti?

Pembinaan secara berkelanjutan mulai dari sekarang, dengan mengandalkan pelatih baik dari provinsi, terutama dari nasional. Sehingga ada introdusir perkembangan nasional kepada para qari-qariah kita di Aceh.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!