Toleransi Umat Islam Sangat Besar

GEMA EDISI JUM’AT 18 OKTOBER 2019

Tgk. H. Faisal Ali – Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh

Apa arti dari paham radikalisme?

Majelis Permasyarakatan Ulama (MPU) Aceh menerbitkan fatwa haram radikalisme guna mencegah keresahan masyarakat terhadap intoleransi beragama . Tasamuh atau sikap toleransi yang saling menghargai terhadap sesama muslim sangat dianjurkan dalam Islam. Tasamuh akan mempererat silaturahmi sebagai salah satu kekuatan dalam menjaga persatuan di tengah umat. Simak wawancara singkat wartawan Tabloid Gema Baiturrahman Indra Kariadi dengan wakil ketua Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh, Tgk. H. Faisal Ali

Apa arti radikalisme?

Radikalisme adalah seseorang atau sekelompok orang ingin melakukan perubahan terhadap tata kehidupan masyarakat secara brutal. Merubah tata sosial masyarakat, baik agama, politik, ekonomi, dengan cara diluar batas yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin. Bukan dalam arti tidak ada perubahan, perubahan mesti dilakukan jika yang terkandung ada nilai-nilai positif, tetapi tidak boleh dilakukan diluar batas kewajaran. Terkait dengan toleransi antar umat beragama, selama toleransi itu  pada bukan substansi akidah dan ibadah serta moral tidak ada masalah dan dibenarkan dalam agama kita.

Apa yang membahayakan dari paham radikalisme?

Kenapa paham radikalisme itu masuk dalam kategori bahaya, karena kategori tidak normal. Perubahan sesuatu diluar batas  kemampuan manusia, karena akan muncul  aksi-aksi yang bisa membahayakan kehidupan orang lain, akan menimbulkan rasa kebencian dalam penyampaian tausiyah-tausiayah atau pesan-pesan agamanya, dan ada pihak-pihak yang menganggap yang bukan seperti yang di pahaminya maka itu adalah salah. Jadi pemahaman radikal itu bukan sesuatu yang salah, tetapi orang yang melihat dan mendengar bisa melakukan diluar batas yang tidak tepat, bisa membahayakan orang lain.

Bagaimana toleransi antar sesama umat Islam?

Toleransi antar sesama umat Nabi Muhammad, toleransi ini sudah lumrah terjadi dan sudah diamalkan umat-umat Nabi Muhammad terdahulu dan sampai dengan kita sekarang. Tapi ada pembatasan-pembatasan dalam konteks umat Islam sendiri. Kalau dalam konteks ibadah toleransi itu bukan pada hal substansi (pokok) daripada ibadah itu sendiri. Diluar pokok-pokok ibadah itu silahkan ada toleransi. Pengajaran dan pengamalan agama yang berkembang di tengah-tengah masyarakat beraneka macam bentuknya dan telah menimbulkan keresahan yang berujung pada gesekan antar sesama masyarakat.

Bagaimana toleransi antar umat beragama?

Menghargai antar umat beragama, al-Quran sudah menjelaskan “Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku” (QS. Al Kafirun: 6). Kita ingin meluruskan intolerensi itu tidak hanya terjadi pada umat Islam, tapi dikalangan umat-umat lain juga harus dilakukan. Pelebelisasian intolenransi pada umat Islam adalah sesuatu yang tidak tepat, karena umat Islam cukup toleransi dalam beragama. Kita bisa buktikan dimana saja mayoritas umat Islam, umat agama lain akan nyaman dan tentram hidupnya. Secara global kita berkaca umat Islam itu sangat toleransi, karena ajaran Islam itu mengajarkan kita untuk menjaga sesama makhluk Allah diatas bumi ini, bukan hanya dengan manusia saja, dengan makhluk lain perlu kita jaga, seperti hewan, tumbuhan dan makhluk lainnya.

Bagaimana pemahaman radikal antar umat beragama?

Ada radikal antar umat beragama, ada radikal sesama agama. Jadi kalau kita di Aceh ini lebih banyak radikal intern umat beragama. Ada orang yang baru datang ke Aceh yang menyampaikan pesan-pesan agama itu dengan radikal dengan mengkafirkan, mengsyirikkan, membid’ahkan orang, seperti inilah yang dimaksudkan penyebaran agama secara radikal dan tidak kita ingin dan itu tidak boleh ada di Aceh. Karena kita di Aceh sudah rukun hidup baik sesama umat Islam maupun sesama antar umat beragama di Aceh. Karena kita di Aceh menghindari daripada dai-dai dan penceramah yang mengajarkan virus-virus radikal di Aceh ini kepada umat Islam dan begitu toleran dalam kehidupan dan tawasuth (moderat) di Aceh ini. Diminta kepada semua pemeluk agama dan golongan/kelompok untuk saling menghargai dan menjauhi sifat dan sikap radikalisme

Bagaimana peran pemerintah Aceh?

Pemerintah Aceh sudah melakukan langkah-langkah untuk mengiring para dai-dai itu untuk Islam yang tawasuth, seperti melahirkan beberapa qanun, tentang qanun-qanun pokok pelaksanaan syariat islam, qanun perlindungan dan pembinaan aqidah, qanun tentang jinayat, qanun tentang acara jinayat. Semua yang masuk dalam qanun itu adalah Islam yang rahmatan lil alamin, Islam yang tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), dan tasamuh (toleran). Dan inilah yang terus dijaga agar kita bisa aman, nyaman, dan tentran dalam konteks bingkai Aceh yang kita cintai ini.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!